HomeCerpen

Cerita anak : Pohon Rambutan Pak Amin

Siang itu Budi dan Roni tak langsung pulang ke rumah. Sepulang sekolah mereka mampir ke tempat persewaan Play Station (PS) untuk bermain game. Padahal mereka belum meminta izin kepada orang tua mereka. Dua jam berlalu. Mereka semakin asyik bermain game.
”Yes, aku menang….” seru Roni girang.
”Yaaah, aku kalah,” sahut Budi.
”Hahaha….” tawa Roni membahana.
”Sudahlah, ayo kita pulang”, ajak Budi.
”Hahaha, kamu ngajak aku pulang karena kamu takut kalah lagi kan melawan aku?” ejek Roni.
”Tidak, aku tidak takut melawan kamu, tapi kan kita sudah dua jam main game. Kita juga belum minta izin sama orang tua, nanti kalau kita dicari gimana?” ujar Budi.
”Baiklah, tapi besok kita sambung lagi ya!” pinta Roni.
”Oke. Siapa takut,” sahut Budi.
Akhirnya mereka pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Mereka tidak naik angkutan umum karena uang saku mereka telah habis untuk bermain PS. Matahari bersinar sangat panas. Keringat membasahi tubuh Roni dan Budi.
”Panas sekali hari ini,” kata Roni.
”Iya nih, aku juga haus sekali,” tambah Budi.
”Tapi uang kita sudah habis. Jadi tidak bisa membeli minuman dingin,” kata Roni.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan rasa haus yang menyiksa. Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba pandangan Roni tertuju pada pohon rambutan yang tengah berbuah lebat. Roni menghentikan langkah Budi.
”Bud, coba lihat ke arah sana,” kata Roni sambil menunjuk ke arah pohon rambutan.
”Wah, lebat sekali,” jawab Budi.
”Pasti segar sekali rambutan itu. Apalagi saat panas begini. Pas banget,” ujar Roni.
”Dan tentu juga manis dan enak,” tambah Budi.
”Bagaimana kalau kita memetiknya untuk mengurangi rasa haus, mumpung lagi sepi,” ajak Roni.
”Tapi Ron….” Budi belum selesai bicara, tetapi Roni sudah menariknya ke pohon rambutan itu.
”Ayo, kita panjat pohon rambutan ini.” Budi menolak. Dia memang tidak bisa memanjat pohon. Akhirnya Roni yang memanjat pohon rambutan dan memetiknya, sedangkan Budi yang mengambilnya di tanah.
”Bud, kamu juga jaga-jaga, ya. Siapa tahu ada orang yang lihat, bisa gawat,” perintah Roni.
Setelah terkumpul cukup banyak, mereka segera memakannya.
”Mmm, enak sekali. Rasanya manis dan segar,” kata Roni.
”Ron, jangan makan terlalu banyak, nanti sakit perut lo. Kita kan belum makan nasi,” ujar Budi mengingatkan.
”Berisik kamu! Yang memetik rambutan ini kan aku, bukan kamu!” hardik Roni kesal. Budi hanya diam. Setelah rasa haus hilang, mereka segera pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, ibu Roni menanyakan kepada Roni kenapa dia pulang terlambat.
”A… a… anu Bu, tadi habis keja kelompok di rumah teman,” jawab Roni terbata-bata.
”Oh, ya sudah. Besok lagi kalau mau pulang terlambat beri tahu Ibu dulu, ya,” kata ibu menasehati.
”Baik, Bu,” jawab Roni. Dia pun bergegas masuk ke dalam kamar dan ganti baju.
Pagi harinya, di sekolah Budi tidak melihat Roni. ”Mungkin dia belum berangkat,” pikirnya dalam hati. Tapi Roni tidak kunjung datang sampai bel masuk berbunyi. Pak Amin, guru Bahasa Indonesia masuk ke dalam kelas dan mengabsen para siswa.
”Roni Wijaya.”
”Tidak hadir, Pak,” para siswa menjawab.
”Budi, apa kamu tahu mengapa hari ini Roni tidak berangkat?” tanya Pak Amin kepada Budi.
”Tidak tahu, Pak”, jawab Budi.
”Apa karena sakit perut setelah kemarin makan terlalu banyak rambutan?” tanya Pak Amin lagi.
Budi tidak menjawab. Wajahnya pucat. Mengapa Pak Amin bisa mengetahui bahwa mereka kemarin makan rambutan? pikiran itu berkecamuk sepanjang jam pelajaran.
Saat jam istirahat tiba, Pak Amin menghampiri Budi. Dia meminta Budi agar sepulang sekolah nanti pergi ke rumah Roni untuk menanyakan mengapa Roni tidak masuk sekolah. Budi mengangguk setuju.
”Pak, bagaimana Bapak bisa tahu kalau kemarin kami makan rambutan?” tanya Budi kepada Pak Amin memberanikan diri.
”Karena yang kalian makan adalah rambutan saya,” jawab Pak Amin.
”Kemarin saya melihat kalian sedang memetiknya lalu membuang kulitnya sembarangan,” lanjut Pak Amin.
Budi sangat kaget.
”Maafkan kami, Pak. Kemarin kami haus sekali dan tidak punya uang untuk membeli minuman, jadi kami mencuri rambutan. Maafkan kami, Pak,” kata Budi merasa bersalah.
”Baiklah saya maafkan, tetapi jangan diulangi lagi ya? Sebaiknya kalian minta ijin dulu kepada pemiliknya. Pasti nanti kalian juga akan diberi,” kata Pak Amin memberi nasihat.
”Baik Pak, sekali lagi maafkan kami.”
Pulang sekolah Budi ke rumah Roni. Ternyata benar Roni sekarang sedang sakit perut.
”Bud, maafkan aku ya, seharusnya aku mengikuti kata-katamu agar tidak makan rambutan terlalu banyak,” kata Roni kepada Budi.
”Iya tidak apa-apa. Apakah kamu sudah ke dokter?” tanya Budi.
”Iya, sudah. Besok aku juga sudah bisa berangkat sekolah lagi,” jawab Roni.
”Syukurlah.”
Budi lalu menceritakan kepada Roni bahwa pemilik pohon rambutan itu adalah Pak Amin. Sama seperti Budi, Roni juga kaget saat mendengarnya. Roni berencana akan meminta maaf kepada Pak Amin besok saat berangkat sekolah.
Setelah Budi pulang, Roni masih memikirkan tentang kejadian kemarin. Selain telah mencuri rambutan milik Pak Amin, dia juga telah membohongi ibunya. Dia pun bergegas menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.
”Lo Roni, kenapa kamu ke sini? Harusnya kamu istirahat saja di kamar.”
”Bu, maafkan Roni. Kemarin Roni telah berbohong kepada Ibu,” kata Roni.
”Apa? Berbohong? Berbohong apa?” tanya ibu.
”Sebenarnya kemarin Roni pulang terlambat karena keasyikan bermain PS, bukan karena melakukan kerja kelompok di rumah teman,” kata Roni menjelaskan.
”Apa? Bermain PS?” lbu kaget.
”Maafkan Roni, Bu,” kata Roni lirih sambil tertunduk. Dia tidak berani menatap mata ibunya. Dia sangat menyesal.
”Ya sudah, lbu maafkan. Tapi jangan diulagi lagi, ya?” jawab ibu Roni.
”Iya Bu, Roni berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

Oleh : Uli Cahyati

Suara Merdeka 20130512

error: Content is protected !!