Cernak : Putri Mawar

Oleh : Dani M Zuha
Ilustrasi : Farid S Madjid

Bunga mawar itu terayun-ayun di tangkainya oleh tiupan angin. Nita hendak memetik bunga mawar itu, tapi ia ragu-ragu. Di dalam keranjang yang dibawanya hanya ada empat bunga mawar.
Nita mengeluh, lalu memandang sekitarnya. Tampak olehnya, tidak ada lagi satu pun bunga mawar di taman tepi hutan itu, kecuali satu bunga mawar di depannya. Itu adalah mawar kelima yang akan dia petik dan dibawa pulang.
Perasaan Nita sedih, kalau ia pulang hanya membawa lima bunga mawar, bagaimana ibunya akan mendapatkan uang dari jualan bunga? Apalagi ibunya baru sakit, sehingga tak bisa mencari bunga sendiri. Akhirnya, dengan perasaan sedih, ia terpaksa memetik mawar itu.
Air mata kesedihan itu menetes, membasahi mawar di tangan Nita. Aneh bin ajaib, dari kelopak bunga mawar itu keluar putri mungil yang cantik dengan kedua sayap gemulai. Nita mengusap-usap kedua matanya seolah tak percaya.
”Siii… siapa kamu?” tanya Nita dengan cemas.
”Jangan takut, Nita. Panggil aku Putri Mawar. Aku tahu kesedihanmu. Ibumu sedang sakit, dan kamu belum membayar sekolah, bukan?” balas peri mungil itu.
Nita terkejut, karena Putri Mawar ternyata mengetahui apa yang ia alami dan ia rasakan. Dan ia hanya bisa memandang takjub.
”Untuk anak yang baik, jujur, dan berbakti kepada orang tua seperti kamu, aku siap membantu,” ujarnya.
”Membantu? Tapi bagaimana caranya?”
”Dengarlah. Tiuplah mawar ini, dan berjanjilah untuk mencintai bunga mawar, dan hanya memetik secukupnya saja untuk kebutuhanku. Setelah itu, bawalah mawar ini pulang, tutup dengan kain, dan bukalah sebelum fajar merekah,” ujar Putri Mawar.
Nita mengangguk-angguk mendengar kata-kata Putri Mawar, lalu Putri Mawar menghilang. Nita seperti terbangun dari mimpi. Tanpa menunggu lama, ia pun melakukan apa yang dikatakan Putri Mawar.
* * *
Pagi-pagi sekali, Nita sudah bangun tidur. Tampak olehnya, ibunya masih terbaring di tempat tidur kayu tanpa kasur. Mungkin ibunya butuh istirahat lebih lama, karena tadi malam tubuhnya masih sedikit demam.
Dengan langkah bersijingkat, Nita menuju ke kamar mandi, tempat ia menaruh keranjang berisi lima bunga mawar. Saat ia membuka kain penutup keranjang, ia terkejut bukan main.
Keranjang yang kemarin hanya berisi lima bunga mawar, kini sudah penuh dengan bunga mawar yang ranum, merah, dan segar.
Nita yakin, keajaiban itu berkat bantuan Putri Mawar. Ia pun bersyukur dalam hati. Pagi itu, setelah mandi, Nita bertekad hendak berjualan bunga ke pasar bunga. Ia kasihan melihat ibunya yang masih sakit harus bekerja sendirian. Kebetulan hari itu hari Minggu, jadi ia tidak sekolah. Ia cukup makan kue sisa kemarin dan minum air putih dari kendi tanah. Dengan berat hati, ibunya melepas kepergian anaknya.




Matahari belum muncul ketika Nita tiba di pasar bunga yang tak jauh dari rumahnya. Baru ada dua orang penjual bunga di tempat itu. Ia pun mengambil tempat yang biasanya dipakai ibunya menggelar lapak. Dibukanya keranjang itu, lalu ditatanya bunga-bunga mawar itu dengan rapi dengan alas bagor.
Nita tidak canggung mengerjakan itu sendirian, karena ia sudah terbiasa membantu ibunya berjualan bunga. Tak sampai siang hari, bunga mawar dagangan Nita laris terjual. Ia lalu pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga.
”Ibuuu, aku pulang…!” seru Nita begitu tiba di rumah.
Ibunya menyambut dengan wajah gembira.
Nita memeluk ibunya yang masih tidur di pembaringan dengan penuh sayang. ”Ibu, Nita hari ini beruntung, bunganya habis terjual. Ayo kita berobat ke Puskesmas Jaga. Ibu harus sembuh ya…”
Mendengar itu, ibunya menangis haru.
Sore harinya, Nita kembali ke tepi hutan. Selama ibunya masih belum sembuh, ia mencarikan bunga untuk dijual esok harinya. Ia menuju ke tempat ia memetik bunga terakhir kemarin sore.
Nita terheran-heran. Di tempat itu bunga-bunga mawar bermekaran sangat indah. Begitu cepat bunga itu tumbuh kembali, pikirnya. Dipandanginya bunga mawar di tangkai yang ia petik kemarin sore. Ia memejamkan mata, berharap Putri Mawar hadir lagi.
”Nita… Nita, bukalah mata….”
Nita membuka mata, dan di atas bunga mawar itu sudah berdiri Putri Mawar yang mungil. Nita mengucapkan terima kasih karena berkat Putri Mawar, ia bisa mengobatkan ibunya. Putri Mawar membalasnya dengan senyum.
”Yang penting ingat pesanku. Ambil bunga mawar secukupnya saja. Jangan biarkan tempat ini menjadi gersang,” pesan Putri Mawar.
”Baik Putri, terima kasih….” ujar Nita, dan Putri Mawar pun menghilang dari hadapannya.
(69)

Suara Merdeka 13 Juli 2014