Cernak : Berlebihan itu Tidak Baik

Cerita anak – Cernak

Berlebihan itu Tidak Baik

Oleh : Septi Yulisetiani
Ilustrasi : Kak Jo

Tema : sikap baik dan buruk

Moci anak yang baik. Dia rajin merawat tanaman. Setiap hari dia membantu ibunya menyiram bunga dan tanaman lain yang ada di halaman rumahnya. Sesekali Moci juga membantu ayahnya memupuk dan menyiangi tanaman. Bagi Moci berkebun adalah hal yang sangat menyenangkan.
Ini berbeda dari Kuky, teman karib Moci. Alih-alih membantu ibunya merawat tanaman, Kuky justru gemar merusaknya. Para tetangga kerap mengeluhkan kelakuan Kuky yang hobi mencuri buah di halaman mereka.
Mendengar keluhan para tetangga, Kakek Gora berniat memberi pelajaran kepada Kuky. Dia lalu mengundang Kuky dan Moci untuk datang ke kebun stroberinya.
Sore itu, Moci dan Kuky memenuhi undangan Kakek Gora. Keduanya langsung menelan air ludah begitu melihat hamparan kebun penuh buah stroberi yang telah ranum.
”Kalian boleh memetik buah strowberi ini sesuka hati,” kata Kakek Gora seolah tahu apa yang Moci dan Kuky pikirkan.
”Asyik….” teriak Kuky dan Moci kencang.
”Tapi….” kata Kakek Gora.
”Tapi apa, Kek?” tanya Kuky.
”Jangan berlebihan ya, nanti perut kalian bisa sakit,” nasihat Kakek Gora.
”Kuky suka sekali makan stroberi, Kek. Jadi Kuky akan melahap semua stroberi yang ada di kebun ini,” kata Kuky. Kakek Gora menggeleng-gelengkan kepalanya.
”Pohon buah harus disayang. Petiklah secukupnya agar ia selalu menghasilkan buah-buah yang kita inginkan,” ujar Kakek Gora.
Moci mengangguk. Dia paham apa yang dikatakan Kakek Gora. Namun tidak demikian dengan Kuky. Dia langsung memetik buah
stroberi tanpa terlebih dulu mendengarkan nasihat Kakek Gora. Dia bahkan juga tak peduli ketika beberapa semut menggigit wajahnya. Moci berkeliling sebelum mulai memetik stroberi. Diamatinya tanaman itu untuk mencari buah yang telah ranum.
”Wah, stroberi itu pasti enak sekali,” kata Moci dalam hati begitu melihat buah yang telah berwarna merah. Dia kemudian mengangkat batang pohon strowberi itu dan memetik buahnya
dengan sangat hati-hati.
”Ini kerangjang buah untukmu,” kata Kuky sambil menyodorkan keranjang buah berukuran besar.
”Wah besar sekali, Kuky. Aku tidak akan habis memakan buah dalam keranjang sebesar itu. Aku akan mengambil sendiri keranjang buah yang kecil,” jawab Moci.
Kuky tak menghiraukan kata-kata Moci. Dia melempar keranjang buah hingga menimpa pohon stroberi.
”Kuky, tanaman ini bisa rusak gara-gara keranjang yang kamu lempar,” teriak Moci kesal.
”Biarkan saja, cuma rusak sedikit tidak apa-apa,” jawab Kuky sekenanya. Dia kembali menikmati buah stroberi dengan lahap.
Tiba-tiba, brukkkk. Kuky tersandung rumput yang menjalar. Dia tidak melihatnya karena terlalu asyik mengunyah stroberi.
”Itu akibat kamu tidak sayang tanaman,” kata Moci.
”Tolong aku,” teriak Kuky.
Moci memapah Kuky ke rumah Kakek Gora. Setiba di rumah Kakek Gora, Kuky mengeluh sakit perut. Wah itu karena dia berlebihan makan stroberi. Kakek Gora pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Kuky.
”Kakek,” panggil Kuky.
”Ada apa, Kuky?” sahut Kakek Gora.
”Kuky sangat menyesal tidak mendengarkan nasihat Kakek.”
”Benar kamu menyesal?”
”Iya, Kek.”
”Jika benar begitu, bisakah kamu membantu menjaga kebun Kakek selama satu minggu?” tantang Kakek.
”Sanggup Kek,” jawab Kuky.
***
Mulailah Kuky menjaga tanaman bersama Moci. Mereka membagi kebun stroberi milik Kakek Gora menjadi dua bagian. Sebelah kanan dirawat Moci dan sebelah kiri dirawat Kuky.
Semua itu ide Kuky. Mereka pun berlomba. Siapa yang bisa memanen lebih banyak stroberi, dialah yang menang.
”Kuky, jangan berlebihan memberi pupuk, pohon stroberi itu bisa mati,” kata Moci mengingatkan Kuky.
”Ah, kamu jangan ikut-ikutan. Ini bagianku. Kamu rawat saja kebun bagianmu. Nanti kalau kebun stroberiku menghasilkan buah kamu jangan minta ya,” kata Kuky sombong.
”Kuky, tanaman memang butuh pupuk, tapi bukan berarti kamu bisa memberinya secara berlebihan. Ada aturannya. Begitu pula ketika menyiram tanaman. Ada saatnya tanaman butuh disiram, tapi ada kalanya juga tidak perlu disiram. Kamu tidak boleh asal menyiram,” terang Moci.
Namun Kuky ogah mendengarkan kata-kata Moci. Dia yakin bakal berhasil merawat kebun dengan caranya sendiri.
Sepekan berlalu. Semua tanaman yang dirawat Kuky layu. Tak ada satu pun yang berbuah. Sementara bagian kebun yang dirawat Moci tampak hijau segar. Di antara daun-daun hijau itu menyembul buah stroberi yang merah ranum, siap untuk dipanen.
Saat Kakek Gora datang, dia langsung tahu bahwa kebun yang rusak adalah yang dirawat Kuky. Kali ini, Kuky benar-benar menyesal. Dia berjanji akan belajar berkebun dengan baik.

Suara merdeka, 20120805