Cernak : Ternyata Aku Bisa

ternyata-aku-bisa

Oleh : Izzarotun Nadhifah
Tema : belajar puasa

Hari ini bulan Ramadan tiba. Kata Mama, sudah saatnya aku berlatih berpuasa. Kata Mama lagi, itu artinya aku tidak boleh makan dan minum dari mulai fajar sampai magrib.
Wuih…. mengerikan sekali, demikian kubayangkan.
Betapa tidak? Sekarang sedang musim kemarau. Cuaca sangat panas. Bagaimana kalau aku kehausan atau kelaparan? Hiii…
‘’Amira Sayang, bangun Nak. Ayo kita makan sahur,’’ suara Mama membangunkanku dari tidur yang indah.
“Iya Ma, sebentar lagi deh,” jawabku bermalas-malasan sambil terus memeluk guling seolah tak ingin kehilangan barang sedetikpun.
“Amira, kalau tidak lekas bangun, ntar keburu imsak Sayang,’’ bujuk Mama.
“Aduh Mama, Amira nggak usah sahur aja deh. Pasti kuat kok,” kataku berusaha meyakinkan Mama.
“Mama percaya Amira kuat, tapi sahur itu adalah kesunahan, Sayang. Ayo Mama temenin.’’
“Iya deh,” jawabku setengah mengantuk.
Sebelum sahur, aku cuci muka dulu sekedar untuk membuat badan agak segar. Di meja makan sudah menunggu Papa, Kak Althar, dan Mbak Marsha. Mereka terlihat sudah siap benar menyambut puasa.
Bismillaahirrohmaanirrohiim… Kami pun sahur bersama. Setelah sahur, kami shalat subuh berjamaah.
Siang ini udara terasa panas sekali sampai-sampai bibirku terasa kering dan pecah-pecah.
Buru-buru aku menuju almari es untuk mengambil sedikit air minum.
“Eiit… ngapain kamu?”, suara Kak Althar mengagetkanku.
“Ini kan puase, Sayang…,” goda Kak Althar dengan logat melayunya yang dibuat-buat.
“He…he… lupa, Kak. Tapi ini kan sudah jam 12 siang, memangnya harus menunggu sampai kapan lagi?” tanyaku setengah memelas.
“Sampai besok pagi, Cantikk….’’ goda Kak Althar lagi.
“Sampai nanti bedug magrib,’’ jawab Mbak Marsha yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar.
‘’Sabar ya… Amira pasti bisa,’’ kata Mbak Marsha memberi semangat.
“Iya Mbak, makasih…”
Daripada aku menunggu waktu buka puasa hanya dengan melihat jam terus, aku kemudian memutuskan untuk membaca buku. Saking asyiknya, tak terasa aku sampai tertidur lelap. Aku baru bangun setelah sayup-sayup terdengar suara adzan asar. Aku pun bergegas mandi dan menjalankan shalat asar, lalu bersiap-siap untuk mengaji di masjid. Ternyata banyak teman – temanku yang juga berpuasa. Jadi senang rasanya.
Selesai mengaji aku pun pulang. Tak terasa hari sudah mulai menjelang petang. Di meja makan sudah tersaji berbagai hidangan yang menggugah selera.
“Allaahuakbar …Allahuakbar…,’’ terdengar suara azan. Alhamdulillah, akhirnya tiba juga waktu berbuka.
“Allaahumma lakasumtu wabika amantu wa’ala rizkqika afthortu birahmatika yaa arhamarroohimiin, Amin…” Kak Althar memimpin doa berbuka puasa. Ah… puasa bulan ini begitu menyenangkan. Ternyata tidak seberat yang kukira.

Suara Merdeka, 20120729