Cerita anak : Koki Kanaya

KOKI KANAYA

Oleh : Inez Christyastuti Hapsari
Ilustrator : Farid S. Madjid
Thema Cerita Anak : Menanamkan cinta akan kebersihan

Tami, Kanaya, dan peri-peri sedang sibuk. Dua minggu lagi diadakan lomba memasak di Kerajaan. Pemenangnya akan mendapat hadiah istimewa, menjadi koki di istana. Waah seru dan menarik sekali ya! Karena itu, kini para peri di kerajaan sedang mempersiapkan diri. Mereka berlatih resep-resep masakan rahasia yang dimiliki agar dapat menjadi juara.
“Lihat saja, pasti aku yang akan menang,” ucap Kanaya sombong. Peri mungil itu memang jago memasak. Di akademi istana, masakannya selalu dipuji oleh guru dan teman-temannya.
Meski begitu, Tami, sahabatnya diam saja. Dia tetap tekun berlatih tanpa memperhatikan ucapan-ucapan sombong Kanaya. Suatu ketika, Tami melihat Kanaya lalai membersihkan dapur.
“Lho, Kanaya, dapurmu kok tidak dibersihkan?” tanya Tami heran.
Kanaya bersungut-sungut. “Apa pedulimu? Masakan buatanku masih tetap enak meski aku tak membersihkan dapurku,” sanggahnya.
Meski tinggi hati, ucapan Kanaya ternyata terbukti. Di hari perlombaan, dia keluar sebagai juara dalam lomba memasak.

“Nah, betul kan apa yang kubilang? Aku pasti menang!” seru Kanaya sombong. Dia tak memedulikan Tami yang hendak memberikan ucapan selamat. Kanaya justru buru-buru pulang dan sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke istana.
koki-kanaya

Esoknya, Kanaya memulai hari sebagai koki istana. Dia tercengang saat melihat dapur istana yang begitu luas. Pengurus istana sudah memberinya izin untuk menggunakan dapur itu sesuka hati. Kanaya juga diperbolehkan memesan bahan makanan apa pun asalkan tidak lupa memasak masakan yang enak untuk Ratu Tania.
Mendengar itu, Kanaya kegirangan. Dia segera memesan bahan-bahan makanan terbaik dari penjuru negeri dan menyimpannya di gudang bahan makanan.
“Kanaya… apa jumlahnya tak kebanyakan?” tanya pengurus istana cemas. Dia memperhatikan gudang istana yang kini dipenuhi bermacam-macam bahan makanan.
“Tenang saja, aku pasti bisa memanfaatkannya dengan baik,” jawab Kanaya yakin.
Dia meninggalkan pengurus istana dan mulai memasak dengan riang gembira. Masakan pertama yang dibuatnya adalah pancake arbei. Sebab dia dengar, Ratu Tania suka sekali makanan itu.
“Wah, pancake buatanmu lezat sekali, koki. Selai arbeinya juga segar,” puji Ratu Tania senang saat mencicipi.
Kanaya tersenyum senang. Dia jadi makin bersemangat untuk memasak. Namun, uh-oh.. ada masalah. Entah kenapa, beberapa hari kemudian para penghuni istana terserang penyakit yang sama. Bahkan Ratu Tania pun ikut sakit perut, demam, dan muntah-muntah.
“Hmm.. Ratu keracunan. Coba periksa dapur istana dan gudang bahan makanan,” perintah dokter yang memeriksa.
Kanaya ketakutan. Seingatnya, dia tak melakukan kesalahan saat memasak untuk Ratu dan para penghuni istana. Namun hasil pemeriksaan dari dokter dan pengawal istana berbeda.
“Bisa-bisanya kamu membiarkan bahan makanan bertumpuk hingga berjamur selama berhari-hari, koki. Kebersihan dapur dan alat-alat masakmu pun tak pernah dijaga. Bagaimana kamu ini, koki! Kamu tahu, sekarang Ratu Tania sakit karena ulahmu!” bentak dokter istana.
Kanaya pucat pasi. Dia hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan tangis. Dalam hati dia mengakui kesalahannya. Karena terlalu gembira diberi keleluasaan oleh pengurus istana, dengan ceroboh dia memesan bahan makanan apa pun yang disuka. Kanaya tak peduli bahan-bahan itu menumpuk berhari-hari karena sebagian bahan makanan tersebut toh dihabiskannya sendiri. Untung dokter dan pengawal istana tak mengetahui rahasia kecil ini. Tapi bagaimana dengan Ratu Tania dan para penghuni istana yang telanjur sakit? Uh, Kanaya tak berani membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya. Kanaya jadi teringat pada Tami. Dia menyesal tak pernah memperhatikan ucapan sahabatnya itu tiap kali dirinya ceroboh dan tak menjaga kebersihan dapur. Kanaya bertekad untuk meminta maaf pada Tami setelah masalah ini selesai.


Untunglah tiga hari kemudian Ratu dan para penghuni istana sudah sembuh. Meski begitu, sebagai hukumannya Kanaya kini diusir dari istana. Dia tidak lagi menjadi koki di tempat itu. Dengan sedih Kanaya kembali ke desanya. Namun di sepanjang jalan peri-peri lain memperhatikan dan berbisik-bisik di belakangnya. Rupanya kabar tentang kecerobohan dan perintah pengusiran Kanaya sudah menyebar di desa. Kanaya jadi semakin sedih.

Esoknya Tami berkunjung ke rumahnya. Kanaya kaget bercampur haru. Dia tak menyangka ternyata Tami tetap baik padanya. Kanaya segera meminta maaf pada peri itu tentang perlakuannya yang buruk selama ini.
“Sudah, tak apa-apa Kanaya. Aku juga tak pernah dendam padamu kok,” kata Tami lembut. “Oh ya, kalau kamu mau, mungkin kamu bisa menjadi koki di tokoku.
Setelah kamu pergi ke istana, aku mendirikan toko roti sendiri. Tapi sekarang kami sedang kekurangan tenaga untuk membantu,” lanjutnya.
Mata Kanaya langsung berbinar-binar mendengar ajakan itu. Dia membayangkan betapa senangnya bisa memasak lagi di dapur yang cantik, dikelilingi bahan-bahan makanan terbaik.
“Mmmm tapi.. Memang kamu tak apa-apa kalau aku membantu di tokomu? Bagaimana kalau nanti aku membuat masalah lagi seperti di istana?” tanya Kanaya ragu.
Tami tersenyum. “Tentu saja, kali ini kamu harus lebih menjaga kebersihan dapur dan bahan makananmu dong! Jangan sampai ada yang kedaluwarsa atau berjamur. Kalau sampai melanggar itu, akan kukeluarkan kamu dari tokoku!” jawab Tami bercanda.
Kanaya tersenyum senang mendengar jawaban itu. Akhirnya, dia bekerja di toko roti milik Tami. Kanaya pun berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga kebersihan dan tidak sombong lagi.

Suara Merdeka, 8 September 2013