Cernak, Tikus Pencuri

Last updated on May 29th, 2015 at 02:36 pm

TIKUS PENCURI

oleh : Libra Sutiyono

Tema Cerita Anak :
Tentang kejujuran,keiklasan dalam memaafkan yang dibalut dalam cerita bernuansa detektif

”Fadil tidak bohong, Ma! Fadil tidak pernah mengambil uang itu. Lagi pula salah Mama juga sih, kenapa Mama masih saja menaruh uang di atas kulkas kalau Mama sudah tahu tempat itu tidak aman?” jawab Fadil saat ditanya soal uang mama yang sering hilang akhir-akhir ini.
”Lalu siapa lagi yang mengambil uang itu kalau tidak kamu? Di rumah ini cuma ada Mama, Papa, Bik Lastri, dan kamu,” kata Mama sekali lagi.
”Kalau begitu, kenapa Mama tidak tanya juga pada Papa dan Bik Lastri? Mungkin saja mereka tahu,” jawab Fadil seenaknya.
Mama diam sambil menghitung kembali uang pecahan yang ada di dalam kotak di atas kulkas. Uang itu adalah hasil penjualan es batu dan Mama sengaja memisahkannya dengan uang belanja.
”Sepertinya ada pencuri di rumah ini,” desah Mama sambil menaruh kembali uangnya di atas kulkas. Sebenarnya uang yang hilang tidaklah banyak. Paling cuma dua ribu atau tiga ribu rupiah. Tapi itu terjadi setiap hari. Kalau genap satu bulan, tentu jumlahnya lumayan banyak juga.
”Pencuri? Mama yakin ada pencuri masuk ke dalam rumah? Kalau memang ada pencuri, kenapa yang diambil cuma uang recehan? Bukannya barang-barang berharga di dalam rumah ini banyak?” jawab Fadil.
”Yang pasti, pencuri itu bukan orang luar tapi orang dalam sendiri. Dan Mama yakin sebentar lagi pencuri itu pasti akan tertangkap,” jawab Mama dengan yakin sambil meninggalkan Fadil sendirian. Fadil mendesah. Dia merasa serba salah. Dia sudah menjelaskan pada Mama kalau dia benar-benar tidak mengambil uang itu. Tapi Mama tampaknya benar-benar tidak percaya dengan penjelasan tersebut.
”Aku janji akan menangkap pencuri itu dan menyerahkannya pada Mama,” gumam Fadil lirih.
”Tapi bagaimana caranya?” gumamnya sambil garuk-garuk kepala.

 ***
Fadil baru saja melangkahkan kaki ke dapur saat terdengar suara ribut-ribut di ruang tengah. Itu suara Mama.
”Ini tidak bisa dibiarkan. Mama paling tidak suka jika ada yang tidak jujur di rumah ini. Apalagi sampai mencuri.”
”Sudahlah, Ma. Malu kalau sampai ada tetangga yang mendengar. Lagi pula uang yang hilang kan tidak seberapa….”
Papa mencoba menasihati Mama.
”Ini bukan soal jumlahnya, tapi soal kejujuran. Awalnya mungkin cuma dua atau tiga ribu, tapi lama-lama bisa jadi jutaan,” suara Mama makin kencang. Papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Seperti itulah Mama. Jika sudah marah, tidak ada seorang pun yang bisa membantahnya, termasuk Papa.
* * *
Malatikus-pencurim itu Fadil tidak bisa tidur. Dia masih teringat soal pencuri uang Mama. Siapa sebenarnya pencuri itu? Jika memang benar yang dikatakan Mama, bahwa pencuri itu pasti orang dalam, berarti kemungkinannya cuma ada dua, yakni Papa dan Bik Lastri. Tapi apa mungkin Papa yang mengambil uang itu? Buat apa Papa mencuri uang tiga ribu rupiah?
Saat Fadil sedang pusing memutar otak, mendadak terdengar suara mencurigakan di ruang tengah. Fadil mengintip dari lubang kunci. Gelap. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Mendadak terdengar suara gelas terjatuh. ”Pyaaar…!”
Fadil bergegas keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Saat lampu dia nyalakan, seekor tikus langsung melompat dari atas kulkas dan berlari menuju dapur. Selembar uang dua ribuan tergeletak di lantai.
Rupanya, tikus itu yang mencuri uang Mama. Fadil tersenyum kecil. Sekarang dia sudah tahu siapa pencuri uang itu. Saat dia memungut uang itu, mendadak pintu kamar Mama terbuka.
”Sekarang Mama sudah tahu pelakunya…”
kata Mama yang tiba-tiba muncul dari kamar sambil menatap Fadil yang tengah membawa uang dua ribu di tangannya.
”Tapi Ma… Ini tidak seperti yang Mama duga…,” Fadil berusaha menjelaskan, tapi Mama sudah kembali masuk kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Fadil hanya bisa mematung di depan kamar Mama.
***
Seharian penuh Fadil mengurung diri dalam kamar. Dia tidak berniat menjelaskan peristiwa semalam pada Mama, karena dia yakin Mama tidak akan pernah percaya padanya. Apalagi malam itu Mama melihat sendiri Fadil sedang membawa uang itu. Kalau saja dia bisa menangkap tikus tersebut dan memaksanya mengaku di depan Mama… Ah… itu sungguh sangat mustahil.
Tapi Fadil tidak mungkin selamanya diam dalam kamar, karena itu sama saja mengakui kalau dirinyalah yang telah mencuri uang itu. Fadil merasa harus berbuat sesuatu. Tiba-tiba dia mendapatkan ide. Mencari sarang tikus tersebut. Siapa tahu tikus itu menyimpan hasil curiannya di suatu tempat di dapur ini.
Fadil bergegas ke dapur dan memeriksa beberapa tempat yang jarang dijamah orang. Bik Lastri yang ada di dapur merasa heran dengan tingkah Fadil.
”Memangnya Den Fadil sedang mencari apa?” tanya Bik Lastri heran. Tapi Fadil tidak memberi jawaban apa-apa. Dia terus membuka satu demi satu laci yang ada di dapur. Saat membuka laci yang paling ujung, mendadak seekor tikus melompat. Fadil kaget. Bik Lastri menjerit ketakutan. Dia memang paling takut sama tikus. Dengan sigap, Fadil memukul tikus tersebut dengan sapu yang ada di tangannya. Usaha Fadil membuahkan hasil. Tikus naas itu tertangkap. Mata Fadil makin tercengang saat melihat isi laci. Beberapa ekor anak tikus sedang tertidur di atas seonggok uang. Rupanya tikus itu mencuri uang untuk dijadikan sarang.
”Ada apa ribut-ribut di dapur?” Mama muncul dan melihat Fadil tengah menenteng seekor tikus. Mama langsung bersembunyi di belakang Papa.
”Aku sudah menangkap pencuri itu, dan aku akan menyerahkannya pada Mama,” kata Fadil sambil tersenyum. Mama berteriak karena dia takut pada tikus.
”Cepat buang tikus itu jauh-jauh!” teriak Mama.

”Tapi sebelumnya Mama harus melihat dulu isi laci ini. Tikus inilah yang telah mencuri uang Mama tiap malam untuk dijadikan sarang,” kata Fadil sambil membuka laci. Mama melihat seonggok uangnya yang sudah bau sambil menutup hidung.

Sekarang terjawab sudah siapa pencuri uang itu. Fadil tersenyum puas karena berhasil mengungkap kasus tersebut. Meski begitu, dia tidak pernah membenci Mama. Saat Mama minta maaf, Fadil buru-buru memeluk Mama dengan sayang.




Sumber : Suara Pembaruan, 24 Feb 2013