Cerpen Anak : Janji Dina

JANJI DINA

Oleh : Sri Fatimah AS
Ilustrasi : Kak Jo
Tema : tentang kesadaran diri untuk menjadi yang lebih baik

”Kerudung… kerudung… kerudungnya, Bu. Tinggal lima. Murah… murah….” teriak seorang bocah laki-laki di ujung pintu pasar. Dina menoleh sejenak melihat bocah gemuk seusianya menjajakan kerudung.
Hari ini Dina pulang agak pagi dan mamanya mengajaknya ke pasar. Awalnya Dina menolak karena ingin cepat-cepat bermain games di rumah. Tapi mamanya memaksa sehingga dia akhirnya ikut juga.
Pasar masih ramai walau jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Teriakan bocah itu langsung terdengar begitu pengunjung memasuki area pasar. Rupanya mama tertarik pada kerudung itu.
“Kerudung, Bu. Tinggal lima, murah lo, cuma Rp 30.000,” kata anak itu.
”Rp 20.000, ya? Ibu ambil semua..”
”Waduh nggak bisa kurang Bu, ini harga pabrik.”
”Ya sudah Ibu ambil semua, tolong dibungkus. Oya kamu nggak sekolah?”
”Sekolah, Bu, tapi masuk siang. Setelah jualan langsung ke sekolah. Ini baju dan buku pelajaran sudah saya bawa sekalian, jadi tidak perlu pulang,” kata anak itu sambil menunjukkan sebuah tas sekolah di sampingnya.
”Ini uangnya, kembaliannya ambil saja untuk tambahan bayar SPP,” kata ibu sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.
janji-dina“Waduh banyak sekali… Terima kasih Bu, semoga rezeki Ibu lancar,” jawab anak laki-laki itu.
“Amin…” jawab mama. Setelah itu mama dan Dina melanjutkan berbelanja.
”Ma, kenapa dibeli semua? Kerudung Mama kan sudah banyak?” protes Dina karena melihat mama memborong kerudung lima sekaligus.
”Tidak apa-apa, hitung-hitung membantu anak itu. Lagi pula warnanya bagus. Harganya pun murah. Kalau di toko pasti mahal. Din, seharusnya kamu mencontoh anak itu. Walau dia bekerja tapi semangatnya untuk menuntut ilmu tinggi,” kata mama menasihati Dina.
”Iya, Ma,” jawab Dina singkat. Tak terasa sudah satu jam mereka belanja.
”Sepertinya semua bahan sudah dibeli, ayo kita pulang,” kata mama kepada Dina.
”Iya, Ma,” jawab Dina sambil mengikuti mama menuju tempat parkir mobil. Semua barang dimasukkan ke bagasi mobil.
”Sepertinya ada yang kelupaan, Ma? Pisang! Bukankah kita akan membuat pisang krispi?” kata Dina
”O iya ya, Mama kok lupa. Kalau begitu kau tunggu di sini saja, Mama membeli pisang dulu,” jawab mama sembari berjalan masuk ke pasar.
Sambil menunggu mama, Dina melihat-lihat sekeliling pasar. Matanya tertuju pada seorang anak perempuan kecil berambut keriting kemerahan yang duduk di trotoar. Mulutnya terus merengek minta uang dengan kata-kata yang memelas.


Banyak di antara orang-orang yang melintas di depannya berhenti sejenak untuk memasukkan koin ke dalam kaleng yang ada di depan gadis kecil itu. Tak lama kemudian gadis itu berdiri dan berjalan menuju tempat yang teduh. Di situ berdiri seorang ibu yang menggendong anak kecil. Setelah menyerahkan kaleng berisi uang kepada ibu tersebut, gadis itu pun duduk sambil menyeka keringatnya yang masih bercucuran. Tapi ibu itu sepertinya marah. Ditariknya kembali tangan gadis kecil itu agar kembali ke tempat semula. Gadis kecil itu meronta, tapi ibu itu terus memaksa. Sambil terisak gadis kecil itu kembali duduk di trotoar di tengah terik matahari.
Melihat itu semua hati Dina jadi sedih. Dia teringat tingkah lakunya selama ini. Dia jarang membantu pekerjaan mama. Kalau tidak berselera dengan masakan Bi Yem, dia langsung merajuk dan meminta pada mamanya untuk membelikan makanan yang lain.
Jika menginginkan sesuatu, Dina juga tak segan memaksa supaya keinginannya cepat dikabulkan. Dia juga sering bangun kesiangan. Beruntung Bi Yem sudah menyiapkan semua keperluan sekolahnya sehingga Dina tidak terlambat ke sekolah. Dina menyesal menyadari kesalahannya selama ini.
”Hai, kenapa bengong begitu? Ayo cepat naik!” teriak mama. Tanpa banyak bicara Dina pun masuk ke dalam mobil.
”Kamu kenapa Din? Kok melamun begitu?” tanya mama keheranan. Dina pun menceritakan apa yang dilihatnya.
”Itulah kehidupan, Dina. Semua berjuang untuk bisa bertahan. Seperti anak yang jualan kerudung tadi, untuk bisa bersekolah dia harus bekerja dulu. Begitu juga anak perempuan itu, dia baru bisa makan jika telah meminta-minta. Kamu harusnya giat belajar, tidak bermalas-malasan, dan selalu bersyukur. Sebab, tanpa bersusah payah kamu bisa makan tiga kali sehari, sekolah, juga tidur dengan nyaman, iya kan?”
”Iya Ma, maafkan Dina ya kalau selama ini menyusahkan Mama dan Bi Yem. Dina berjanji akan menuruti semua nasihat Mama.”
”Nah, begitu dong. Itu baru anak mama yang manis,” sahut mama senang.

Dipetik dari :
Suara Merdeka, 3 Feb 2013