Cerpen tentang Ibu Tiri yang Baik

Last updated on August 23rd, 2017 at 05:08 pm

Tante Hesti

Oleh : Sutono Adiwerna
Ilustrasi : Kak Jo

Seminggu lalu, Ayah menikah dengan Tante Hesti. Meski cantik dan baik, tetap saja aku tidak senang mempunyai ibu baru. Bagiku, posisi mendiang bunda tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Ketidaksukaanku pada Tante Hesti semakin menjadi begitu kabar ayah menikah lagi tersebar hingga ke sekolah.

Tante Hesti, mama baru yang baik
Tante Hesti, mama baru yang baik

“Ih, kalau aku sih nggak mau punya ibu tiri,” ucap Vito begitu melihat aku memasuki ruang kelas.
“Iya, aku juga. Ibu tiri kan jahat,” sahut Dodi, teman sebangku Vito, tak mau kalah. Kalau saja bel tanda masuk tak berbunyi, mungkin aku masih akan mendengar sindiran kedua temanku yang memang terkenal nakal dan usil itu. Sepanjang pelajaran Sains, aku tidak bisa berkonsentrasi. Yang ada di benakku hanya perkataan Vito dan Dodi bahwa ibu tiri itu jahat dan tidak ada yang baik. Tapi, benarkah Tante Hesti seperti itu?

       Selama seminggu tinggal serumah, Tante Hesti tidak pernah marah. Dia juga jarang menyuruhku melakukan sesuatu, apalagi mencubit atau memukul seperti yang dilakukan ibu tiri dalam dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih. Padahal aku tak berusaha menyembunyikan ketidaksukaanku pada Tante Hesti. Aku sering acuh tak acuh saat diajak ngobrol oleh Tante Hesti. Ketika ayah menegur aku, Tante Hesti justru menengahi dan meminta ayah agar lebih sabar. Saat aku mengatakan bahwa masakan Tante Hesti tak selezat masakan bunda, Tante Hesti juga tidak protes. Dia bahkan tetap santai meski aku belum juga mau memanggilnya ibu atau mama.

      ”Awalnya saja terlihat baik, nanti dua minggu atau satu bulan kemudian dia akan berubah menjadi monster jahat yang menyeramkan. Hiiii….” itu kata Vito terakhir sebelum Bu Endah memulai pelajaran Sains. Mungkinkah seminggu ke depan Tante Hesti akan berubah jahat seperti kata Vito? Aku semakin gundah.

       Di luar langit mendung. Awan hitam menggumpal-gumpal. Bu Endah belum juga mengakhiri pelajaran. Padahal lima menit lalu bel tanda pulang sudah berdentang. Pagi tadi, Tante Hesti sudah mengingatkan agar aku membawa payung atau jas hujan. Tapi aku tak mengindahkan nasihatnya. Tadi pagi aku bahkan berangkat sekolah tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadanya. Maklum ayah sedang dinas di luar kota jadi aku bisa bertindak sesuka hatiku.

        Bresss…!! Hujan turun deras saat Bu Endah menutup pelajaran. Vito, Dodi, dan teman-teman lainnya memakai payung atau jas hujan masing-masing sebelum bergegas pulang. Aku? Aku hanya bisa berdiam diri sambil berharap hujan segera reda. Memang sih, ada beberapa yang menawari turut serta, tapi aku menolak dengan halus.  Lima menit, 10 menit, 15 menit, hujan belum juga berhenti. Sekolah benar-benar telah sepi. Mungkin tinggal Pak Ujang, penjaga sekolah, yang sedang sibuk di dapur sekolah. Aku tidak mungkin menerobos hujan karena aku mudah terserang flu dan batuk jika terkena air hujan. Belum lagi tas, sepatu, seragam, dan buku-bukuku pasti akan basah dan rusak jika terkena guyuran hujan.

       Aku memeluk erat tas punggung berwarna hitam di dada. Bibirku komat-kamit berdoa agar hujan reda, sementara mataku setengah memejam. Ditengah doaku, sebuah tangan lembut menyentuh pundak.
“Hmm, coba Damar menuruti kata Tante agar membawa payung atau jas hujan, Damar tidak akan seperti anak hilang seperti ini kan?” gurau Tante Hesti sambil tersenyum. Mataku berbinar senang. Tubuh mungilku sontak memeluk Tante Hesti yang tengah menenteng payung besar berwarna hitam.
“Makasih ya, Tan, eh Mama,” kataku lirih. Meski lirih, aku yakin suaraku terdengar oleh Tante Hesti.

Suara Merdeka, 2 September 2012