Cerpen : Putri Salma dan Baju-Baju

Last updated on August 8th, 2017 at 06:14 pm

Oleh : T.  Nugroho Angkasa
Ilustrator : Farid S Madjid

Kerajaan Wora-wari memiliki seorang Putri yang cantik. Putri Salma namanya. Ia suka sekali bersolek. Baginda Raja sangat memanjakan anak perempuan Satu-satunya tersebut. Segala keinginan Putri selalu dituruti. Bahkan untuk mengurus kebutuhan sehari-hari buah hati tercinta, Baginda Raja mengupah seorang dayang khusus.

Tugas utama dayang Inah, menyiapkan gaun dan pernak-pernik pakaian untuk Putri Salma. Ada satu sifat Putri yang lumayan merepotkan bibi dayang, yakni cepat bosan dan suka bergonta ganti pakaian.

Pakaian yang masih baru, dalam hitungan hari sudah dipensiunkan ke dalam lemari. Putri Salma ingin selalu mengenakan baju model terbaru.

Alhasil, lemari pakaian di pojok kamar Putri cepat sekali penuh sesak. Tak kehabisan akal, sebagai solusi dayang Inah selalu membawa gaun dan baju-baju bekas tersebut ke desa terdekat. Letaknya di balik bukit, tepat di sisi utara Istana Kerajaan Wora-wari. Di desa itu banyak anak perempuan tak memiliki pakaian pantas pakai. Bagaimana bisa membeli pakaian, sedangkan untuk makan sehari-hari saja sulit. Biasanya mereka hanya mengenakan pakaian sederhana yang terbuat dari kain bekas karung gandum. Bahkan bila musim penghujan tiba, mereka jarang berganti pakaian. Kenapa? Karena takut pakaian satu-satunya yang menempel di tubuh kalau dicuci tak bisa segera kering.

Setiap kali Putri Salma bosan dengan pakaian lamanya, dayang Inah selalu memasukkan ke karung khusus. Keesokan harinya, sebelum Putri bangun, dayang tersebut sudah berangkat ke desa terdekat untuk membagibagikan pakaian.

“Ini pakaian dari Putri, silakan dipilih sesuai ukuran kalian masing-masing,” ujar dayang Inah setiap kali membagi-bagikannya.

“Wow bagus-bagus sekali, ada yang hijau, biru, kuning, dan semua pakaian ini masih barubaru! Tolong sampaikan terima kasih kami kepada Putri Salma,” kata perwakilan dari warga desa.
“Kalau ada yang belum dapat tenang saja, minggu depan saya akan kembali ke sini,” janji dayang Inah.

Hari berganti hari, waktu terus bergulir, dayang Inah selalu mengumpulkan pakaian Putri yang tak terpakai lagi. Tapi pada suatu pagi terjadi insiden mengejutkan. Ketika dayang tersebut sedang asyik memasukkan pakaian-pakaian Putri Salma ke dalam karung, ia ketahuan!

“Oh ternyata kamu yang mencuri pakaian-pakaianku, pantas saja lemari bajuku tak pernah penuh dan selalu kosong!” kata Putri dengan suara meninggi sembari merebut kembali pakaian-pakaiannya.
“Maaf Putri, tapi bukankah Putri sudah tidak mau memakai lagi baju-baju itu?” sahut dayang Inah.
“Aku mau menjadikannya koleksi. Walau tak pernah kupakai, aku hendak memamerkannya kepada teman-temanku,” jawab Putri.
Sebagai hukuman atas pencurian tersebut, Putri Salma meminta Baginda Raja memberhentikan si dayang tua. Seperti biasa Baginda Raja selalu meluluskan setiap keinginan putri kesayangannya itu.

Dayang Inah sedih sekali, ia tak lagi mendapat upah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Padahal anak-anaknya sangat membutuhkan sumber pemasukan, karena ayah mereka telah lama meninggal dunia. Tapi apa mau di kata, nasi kini sudah menjadi bubur.

*****

Suatu sore, Putri bosan berada terus di dalam Istana. Lalu, ia berjalan-jalan mengelilingi wilayah kekuasaan Baginda Raja, dari ujung selatan menuju ke utara di balik bukit. Ia ditemani dayang yang baru dan sepasukan prajurit. Di desa bagian selatan, warga biasa-biasa saja. Mereka tak begitu menyambut antusias kedatangan Putri Salma. Sebagian besar hanya mengintip dari balik jendela, saat Putri dan rombongan kerajaan melintasi jalan desa yang berdebu.
Tapi keadaannya berbanding terbalik ketika Putri sampai di desa di bagian utara kerajaan. Di sana warga dari tua, muda, laki-laki hingga perempuan tumpah ruah menyambut Putri Salma di pinggir jalan. Bahkan mereka sampai menggelar karpet merah, sebagai alas kaki Putri agar tidak kotor.
“Ada apa gerangan?” tanya Putri dalam hati.
“Hidup Putri, Hidup Putri Salma!!!” terdengar yel-yel membahana dari para penduduk desa tersebut.

Syahdan, Putri tersadarkan bahwa sebagian besar kaum anak perempuan di desa itu mengenakan pakaian-pakaiannya. Mereka tampak cantik dan bahagia sekali.
Setelah dijelaskan oleh perwakilan warga desa, Putri baru paham bahwa ternyata dayang Inah tidak mencuri pakaiannya. Dia justru berbaik hati membagi-bagikan baju-baju Putri Salma kepada warga desa yang berkekurangan tersebut. Memakai baju dari kain bekas karung gandum memang sering membuat kulit gatal. Apalagi kalau jarang dicuci. Hal itu bukan karena mereka malas, melainkan karena memang hanya punya satu pakaian yang melekat di tubuh.

Dalam hati Putri menyesal telah memberhentikan dayang Inah hanya karena ingin memamerkan koleksi bajunya kepada teman-temannya. Setiba di Istana, Putri Salma segera menyuruh salah satu prajurit mendatangi rumah dayang Inah. Ia diminta bekerja kembali sebagai dayang kepercayaan Putri Salma. Tentu saja dayang Inah menyanggupi dengan penuh syukur. Melayani keluarga kerajaan sungguh kesempatan langka.
Selain itu, ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga serta kembali membagibagikan pakaian untuk penduduk desa. Kali ini tak hanya yang tinggal di wilayah utara yang diberi baju-baju bekas milik Putri Salma, tapi juga di sisi selatan Kerajaan Wora-wari. Agar Kebahagiaan yang dirasakan rakyat bisa merata.(75)


Suara Merdeka, 10 November 2013