Cerpen : Jadwal Hari Minggu

Pagi itu Bu Sasa, guru Bahasa Indonesia, memberi tugas membuat jadwal kegiatan hari Mnggu.
“Kalian sudah berumur 11 tahun, harus mempunyai jadwal kegiatan harian. Di antara kalian, adakah yang sudah mempunyai jadual kegiatan harian?” tanya Bu Sasa. Namun hanya Tata, Rere, Diana dan Kayla yang tunjuk jari.

“Baklah kalau begitu. Kalian bisa mulai dari sekarang. Coba buat jadwal harian pada hari Mnggu. Tuliskan juga jamnya. Setelah selesai, bacakan di depan kelas lalu kumpulkan. Ibu beri waktu 20 menit,” jelas Bu Sasa.

Semua siswa mulai sibuk menulis di lembaran buku masing-masing. Bu Sasa dengan tenang berkeliling kelas mengamati anak-anak. Sisil menuiskan kegiatan hari Mnggu yang biasa dilakukan.Tapi tidak demikian dengan Dara. Teman sebangku Sisil itu agak bingung dengan apa yang akan ditulisnya.
Pasalnya setiap hari Minggu dia selalu berlibur atau jalan-jalan, dari pagi hingga sore. Malam harinya, dia hanya menonton televisi kemudian tidur. Papa dan mamanya adalah orang yang sibuk, jadi pada hari Minggu mereka mengajak Dara untuk berlibur.
Dara juga anak satu-satunya. Segala keperluan sekolahnya sudah disiapkan oleh Bibi, pembantunya. Pekerjaan rumah pun Dara tak tahu menahu, karena semuanya sudah diserahkan pada pembantu.
Tak terasa 20 menit telah berlalu, saatnya membacakan karya di depan kelas. Bu Sasa mulai memanggil murid satu per satu. Sisil mendapat giliran pertama
“Pukul 05.00-05.30, bangun pagi, merapikan tempat tidur dan shalat subuh. Jam 05.30 – 06.00, menyapu halaman. Jam 06.00-06.30, membantu ibu menyiapkan sarapan. Jam 06.30-07.00, sarapan pagi. Jam 07.00-07.30, mencuci piring. Jam 07.30-06.00 mencuci baju. Pukul 08.00-09.00, menyiapkan buku-buku pelajaran, sepatu dan seragam untuk Hari Senin. Jam 09.00-09.30 mandi. Jam 09.30-11.30 menonton televisi. Jam 11.30-12.00 menyiapkan makan siang. Jam 12.00-15.00 tidur siang, 15.00-15.30 mandi sore, 15.30-17.30 mengaji. Jam 18.00-18.15 shalat mahrib, 18.15-19.00 makan malam. Jam 19.00-19.30 shalat Isya. Jam 19.30-21.00 belajar dan mengerjakan PR. Tidur jam 21.00,” tutup Sisil.
“Ya, bagus,” kata Bu Sasa diringi tepuk tangan anak-anak.
“Berikutnya Anto, silakan bacakan jadwalmu di depan kelas,” perintah Bu Sasa. Anto berjalan ke depan kelas sambil mernyeret sepatunya. Bu Sasa duduk di meja guru sambil memperhatikan Anto.
“Jam 07.00 bangun tidur,” baca Anto. “hahaha….”anak-anak tertawa serempak.
“Jam segitu baru bangun?” celetuk Badrun.
‘Tenang, lanjutkan Anto,” pinta Bu Sasa
“Jam 07.00-11.30 nonton TV.” lanjut Anto.
“Hahaha..“.” murid-murid kembali tertawa.





Namun Anto tetap melanjutkan. Dia main game PS di tempat tetangganya dari jam 12.00-16.00. Kemudian pukul 16.00-18.00 bermain sepak bola. Pukul 19.30, Anto sudah tertidur.
Satu demi satu murid membacakan jadwal kegiatan hari Minggu miliknya. Dara semakin gelisah di tempat duduknya. Apalagi, gilirannya tinggal beberapa nomor lagi. Dara menceritakan pada hari Minggu, dia bangun pagi-pagi sekali. Kemudian, bersepeda bersama dengan papa dan mamanya. Lalu, Dara juga bercerita bahwa dia juga membantu mamanya menyiapkan makan pagi. Tidur siang, pergi mengaji seperti Sisil dan juga membersihkan kamar tidur, serta mnenyirami bunga.
“Setelah seluruh siswa membacakan jadwal kegiatannya, Bu Sasa berkata, “Baik, semua jadwal kegiatan kalian sudah Ibu dengarkan. Ibu bangga pada kalian karena sudah menuliskannya secara jujur.
“Oh ya Sil, nanti saat istirahat tolong ikut ibu ke kantor guru ya,” kata Bu Sasa. Sisil mengangguk. Dalam hati dia bertanya, mengapa tiba-tiba Bu Sasa memintanya menghadap. Setelah menutup pelajaran pertama, Bu Sasa bergegas meninggalkan kelas, menuju ruang guru, disusul anak-anak kelas IV yang menghambur ke luar kelas.

Sisil duduk berhadapan dengan Bu Sasa. “Begini Sisil, Ibu ingin menanyakan sesuatu tentang jadwal hari Minggu. Apakah kegiatan yang kamu tulis memang benar-benar kamu lakukan?” tanya Bu Sasa.
”Iya Bu.” jawab Susil mantap.
“Benar begitu?” selidik Bu Sasa. Sisil mengangguk.
“Ibu bertanya untuk yang terakhir kali, kegiatan yang kamu tulis benar-benar dilakukan?”
“Iya, benar Bu,” jawab Sisil.
“Baiklah, kamu boleh kembali istirahat dan tolong panggilkan Dara”, kata Bu Sasa.
Ketika Sisil kembali ke teras kelas, teman-temannya mengerumuni dirinya dan bertanya mengapa Bu Sasa memanggilnya ke ruang guru.
“Bu Sasa cuma menanyakan apakah jadwal hari minggu itu benar-benar aku lakukan, itu saja” jawab Sisil.
“Lalu. apa yang kamu katakan?” tanya Reno.
‘Tentu saja aku jawab iya,”ucap Sisil sambil kembali bermain. Sisil juga menyampaikan pesan Bu Sasa yang meminta Dara menghadap. Selanjutnya, Dara juga diminta untuk memanggil Anton. Rupanya Anton dan Dara juga mendapatkan pertanyaaan yang serupa dengan Sisil. Anton dan Dara juga menjawab seperti yang dikatakan Sisil. Ketiganya, bertanya-tanya, mengapa Bu Sasa menanyakan jadwal kegiatan hari minggu mereka.

Keesokan harinya, Bu Sasa membagikan jadwal hari Minggu yang ditulis anak-anak secara acak. Milik Anto ada di tangan Sisil, milik Sisil dibawa Rian, punya Dara diserahkan kepada Rudi. Sementara Anto, Dara dan Sisil juga membawa jawal kegiatan milik teman yang lain.
“Hari ini bu meminta tolong kepada kalian untuk mencocokkan jadwal kegiatan Hari Minggu yang kalian buat dengan jadwal kegiatan yang ada di amplop ini. Jumlah amplop ini sama dengan jumlah jadwal yang sudah kalian kumpulkan pada Ibu kemarin” Jelas Bu Sasa.
“Tolong beri tanda pada bagian yang tidak sama, baik jam ataupun ak?vitas yang dilakukan,” lanjut Bu Sasa memberi perintah. Semua siswa mulai sibuk.

Tigapuluh menit berlalu. Satu per satu anak diminta maju ke depan, untuk membacakan hasil temannya. Bu Sasa meminta kepada anak-anak tenang mendengarkan. “Tidak usah membacakan namanya, bacakan jadwal dan waktu yang tidak sesuai saja,” perintah Bu Sasa pada Badrun
Ada beberapa anak yang menemukan ketidakcocokan antara jadwal yang dikumpulkan dengan jadwal yang ditulis di lembaran di dalam amplop yang dibagikan Bu Sasa.
“Ibu yakin, tanpa membacakan nama pemilik jadwal ini, yang punya pasti hafal kegiatan yang ditulisnya,” ucap Bu Sasa.
“Amplop ini adalah jadwal yang ditulis oleh orang tua kalian masing-masing. Jauh-jauh hari ibu sudah menyurati orang tua kalian dan mengirimkan lembaran jadwal kegiatan hari Minggu kalian yang harus diisi oleh orang tua. Jadi, orangtua kalian telah memantau kegiatan kalian. Ibu hanya ingin tahu sejauh mana kejujuran kalian,” jelas Bu Sasa panjang lebar.
Semua mata saling berpandangan satu sama lain. Mereka tak menyangka Bu Sasa melakukan hal itu.
“Oleh karena itu, ibu kembalikan jadwal kalian beserta amplop di dalam map ini,” kata Bu Sasa sambil mengacungkan map besar berwarna coklat.
Ketika selesai membagikan map coklat sesuai dengan milik anak-anak, Bu Sasa meninggalkan kelas. Kini, kelas mulai ramai dengan suara anak-anak yang beradu dengan kerosak map ketika dibuka. Mereka penasaran.
“Terima kasih Anto, sudah jujur menuliskan jadwal kegiatanmu apa adanya. Kurangi kebiasaan nonton TV, jangan lerlalu lama ya, Dan biasakan bangun pagi. Ibu ada hadiah untukmu”
pesan Bu Sasa yang ditulis dibawah jadwal kegiatan hari minggu yang dibuat dan dikumpulkan kemarin. Anto kembali merogoh bagian dalam map coklat dan mendapati sebuah buku kumpulan cerita nusantara yang masih baru dan disegel.
“Hore,” teriak Anto kegirangan sehingga membuat teman-teman sekelasnya mengerumuni dia.
“Wah, aku nanti pinjam ya,”seru Badrun.
“Tertu saja,kalau aku sudah selesai membacanya, akan kupinjamkan padamu,”ucap Anto.
Dara hanya duduk termangu mengamati teman-temannya. Rupanya dia telah menghapus dan mengganti jadwal kegiatan hari Minggu yang dibuatnya, ketika tahu teman-teman mentertawakan jadwal Anto yang apa adanya. Dara tidak ingin jadwalnya ditertawakan teman-teman. Di bagian bawah jadwalnya Dara mendapati pesan tertulis dari Bu Sasa.”Tidak ada jadwal kegiatan hari minggu yang begitu sempurna. Tidak perlu malu untuk mengakui sesuatu.” Dara merasa benar-benar menyesal. (66)

 

Oleh : Yulinda Rohedy Yoshoawini
Suara Merdeka Edisi 14 April 2013
Ilustrasi : Farid