Cerpen : Peluk Cinta Sang Kakak

Last updated on April 23rd, 2013 at 08:11 am

Oleh :  Ananda Aprillia Sholihah

Di sebuah dusun kecil tinggallah seorang petani dengan istri dan dua anaknya. Mereka hidup sangat sederhana, namun demikian mereka hidup saling menyayangi. Setiap hari petani tersebut membajak sawah Pak Haji Rohman, sedangkan istrinya membantu berjualan nasi kuning di depan rumah.

Kedua anaknya bernama Dyan dan Anto, Dyan duduk di kelas 3 SD, sedangkan adiknya masih di kelas 1. Mereka sangat akur, tidak pernah berselisih atau bertengkar seperti adik kakak lainnya. Konon kata ibunya ketika mereka masih sama-sama kecil pernah dikasih kotoran bebek yang dikeringkan, ibunya berharap anak-anaknya bisa akur sepanjang hidupnya.

Pagi-pagi sekali Dyan dan Anto sudah pergi ke sekoah karena jarak rumah dan sekolah lumayan cukup jauh. Mereka harus melewati bukit terjal, menyebenangi sungai, menyusuri jalan setapak. Jika musim hujan, air sungai meluap. Ini yang menyulitkan karena belum ada jembatan penyeberangan. Namun, demi menimba ilmu, mereka selalu semangat, bersama anak-anak lainnya di dusun tersebut mereka bahu-membahu saling dorong ketika menaiki bukit. Tak jarang pula Dyan menggendong adiknya karena kecapekan berjalan. Dyan sangat menyayangi adiknya, apa yang menjadi keinginan adiknya, Dyan berusaha untuk mewujudkannya. Ia rela melakukan apa saja untuk adik tersayangnya

Suatu sore Dyan menemani Anto menonton bola di lapangan dekat rumahnya, memang setiap sore anak-anak dusun selalu bermain bola. Anto selalu menjadi penonton setia karena tak memiliki sepatu bola seperti anak-anak lainnya. Anto pernah bilang sama kakaknya kalau ia juga ingin sama-sama main bola, keinginannya itu tak berani ia sampaikan kepada Mak dan Abah karena ia tahu kondisi keuangan mereka hanya untuk makan sehari-hari.
Dari pancaran wajahnya Dyan tahu bahwa Anto ingin sekali bermain bola “Aku harus bisa membeli sepatu bola untuk Anto saat ia ulang tahun nanti,bagaimanapun caranya,” gumam Dyan kepada dirinya sendiri. Keesokan harinya Dyan mengumpulkan uang dengan berjualan pisang goreng buatan ibunya. Sepulang sekolah ia berkeliling dusun menawarkan dagangannya. Panas terik matahari tak ia hiraukan demi sepatu yang Anto inginkan.

Hingga ulang tahun Anta tiba, uang belum cukup mtuk membeli sepasang septu bola. Dyan bingung mencari tambahannya dari mana. Ia melakukan jalan pintas ketika ada kesempatan mencuri dari kaleng hasil jualan ibunya. Anto senang sekali mendapat hadiah dari kakaknya, terlebih hadiahnya berupa barang yang ia impikan. Dengan bangganya ia perlihatkan pada teman-temannya. Namun kebahagian itu tak berlangsung lama karena Abah segera memanggilnya.

Dari raut wajahnya Abah tampak marah, Dyan dan Anto segera berjongkok menghadap tembok. Dengan sapu lidi di tangan kanan, Abah berteriak,”Kalian tahu kenapa kalian dikumpulkan di sini?”
Semua diam tak ada yang berani menyahut.” Mak kalian sudah kehilangan uang di kaleng, siapa yang berani mengambil uang itu?” Dyan dan Anto masih terdiam, menunduk tanpa berani
melihat tatapan mata Abah. “Baiklah jika kalian tidak mau mengaku, kalian layak dipukul,” sapu lidi sudah diangkat tinggi-tinggi. Tiba-tiba Anto mencengkeram tangan Abah dan berkata, “Aku yang melakukannya bah.”
Sapu lidi menghantam punggung Anto bertubi-tubi, “Mau jadi apa masih kecil sudah pinter mencuri?” Abah terus mencambukinya sampai kehabisan napas. Lelaki tua itu terduduk di atas ranjang.

Malam itu Dyan tak bisa tidur, dia terus memeluk adiknya yang penuh memar sambil air matanya tak henti-henti mengalir seperti anak sungai. Tengah malam sambil terisak terucap juga dari bibir Dyan “Akulah pelakunya kenapa kamu mengakuinya To?” Anto menempel telunjuk mungilnya di mulutku,”Mbak jangan menangis lagi sekarang semua sudah terjadi,”  Mereka saling berpelukan. Dalam hati Dyan berkata “aku akan mewujudkan apa pun cita-citamu dik. ” Dan Anto pun berjanji dalam hatinya “tak ada yang bisa nyakitin Mbak Dyan selama aku masih hidup. Aku akan melindunginya” Itulah janji Anto.

Ananda Aprillia Sholihah
Kelas III
SDN Cangkuang 3
Rancaekek Bandung


ULASAN:

ANANDA Aprilia Sholihah menulis cerita pendek yang cukup mengharukan untuk dibaca. Cerpen ini mengusung tema cinta kasih dengan judul “Peluk cnta Sang Kakak”. Ada sesuatu yang tidak baik dalam cerpen ini, yaitu ketika Dyan mencuri uang ibunya karena uangnya tak cukup untuk membelikan sepatu adiknya (Anto). Akan tetapi, nilai kasih sayang yang terkandung dalam cerpen inilah yang membuat cerpen ini sangat penting dan didaktis. Bagaimanapun manusia selalu memiliki sisi kekurangan dan kekurangan itulah yang harus diupayakan untuk dihindari.

Catatan buat Ananda, kamu cukup kreatif memilih topik untuk disajikan dalam sebuah cerita. Gunakanlah kreativitasmu untuk menggali topik-topik yang menarik dari berbagai tema. Kamu bisa mengacu dari tema alam, agama, sosial, dan sebgainya. Selamat ya, ditunggu cerpen lainnya (Kak Etty RS)

Sumber : Pikiran Rakyat, Minggu 24 Pebruari 2013